Kampung Jua, sebuah Korong (Kampung) yang dihuni oleh 154 kk, berada 2 km dari bibir pantai di Kabupaten Padang Pariaman. Mayoritas penduduknya adalah suku Caniago. Sejak bencana gempa bumi 30 September 2009 lalu kampung tersebut belum tersentuh program rehabilitasi dari pemerintah setempat. Masih banyak ditemui rumah-rumah yang retak-retak dan berbahaya untuk ditinggali, namun oleh penghuni, rumah tersebut masih tetap dihuni, karena tidak ada pilihan lain selain tetap menghuni rumah tersebut.
Selain ancaman gempabumi, Kampung tersebut juga rentan terhadap bahaya Tsunami. Jarak kampung dengan bibir pantai hanyalah 2 km. Untuk mengantisipasi ancaman Tsunami, warga kampung secara mandiri menyiapkan jalan sebagai jalur evakuasi. Kurang lebih 40 tahun silam warga secara sadar membuat jalan tembus ke kampung lain di sebelah timur desa dengan memotong sawah-sawah milik warga secara sukarela. Karena tidak tersentuh oleh pembangunan, jalan penghubung tersebut masih dalam keadaan berlumpur dan ditumbuhi oleh rumput yang tinggi. Gorong-gorong (= polong, dalam bahasa lokal), telah pecah dan tidak terurus. Jalan itulah satu-satunya yang lebih aman untuk evakuasi. Ada jalan lain yang langsung menjauh dari laut, namun harus melewati jembatan dan itu berbahaya untuk evakuasi dan mobil tidak cukup bisa melewatinya karena sempit. Selain itu juga tanah tinggi yang dituju berjarak 3 km, sehingga terlalu jauh untuk mencapainya. Sehingga dipilihlah jalan penghubung desa itu sebagai jalur evakuasi.
Untuk memulai bergotong royong membangun desa, masih cukup sulit untuk dimulai (lagi), entah mengapa, masih belum ada jawabannya. Dengan pendampingan yang penuh kesabaran, ketekunan dan konsistensi, akhirnya kegiatan gotong royong itu bisa berjalan kembali. Salah satunya adalah membangun Jalur Evakuasi Tsunami. Dalam gambar, Pak Efendi, yang merupakan tokoh adat (ninik mamak) adalah Ketua Tim Siaga Desa Kampung Jua beserta warga Kampung tengah mengayunkan paculnya untuk meratakan jalan dan memotong rumput yang membenamkan jalam tersebut. Tanpa rasa lelah sekitar 50 an warga bergotong-royong membangun jalur evakuasi secara mandiri. Warga berharap program PNPN Mandiri akan dapat digunakan untuk membangun jalan tersebut sebagai jalur evakuasi yang aman.

Pak Ete Lebai, pria yang sudah berumur 70 an, namun sangat bersemangat ikut dalam gotong royong tersebut. Dalam gambar, Pak Ete, panggilan akrabnya, mencoba mengajak warga-warga lainnya untuk terlibat dalam goro tersebut. Beginilah seruan Pak Ete kalau diterjemahkan," Masak kita tidak malu, orang dari luar saja ikut memperbaiki jalan ini, kok malah warga sendiri tidak mau ikut. Ayo, ayo, datang rame-rame gotong royong!". Alhasil ada beberapa warga beserta anak-anak mereka meramaikan gotong royong tersebut. Gotong royong dimulai dari pukul 08.00 sampai dengan jam 12.00 WIB. Sekitar jam 12 siang lewat, warga menghentikan kegiatan gotong-royong ini, dan sisanya akan dilanjutkan minggu depan.
Selama 40 tahun lebih jalan penghubung desa tersebut tidak tersentuh oleh pembangunan. Kurang lebih 40 tahun silam, warga menyerahkan sebagian sawahnya secara sukarela untuk dijadikan jalan kampung. Namun tidak ada perhatian dari pemerintah setempat untuk melanjutkan pembangunan yang sudah dimulai oleh rakyatnya sendiri. Program kesiapsiagaan bencana dari BPBD-pun belum menyentuh kebutuhan rakyat ini. Dalam membangun jalur evakuasi ini harapannya tertumpu pada program PNPM Mandiri. Program ini seolah menjadi dewa penyelamat rakyat. Pemerintah terkesan berbaik hati memberikan dana pembangunan jalan ini, tanpa harus melewati rapat dewan untuk menyetujui atau tidak. Persetujuan oleh Panitia Program PNPM Mandiri cukuplah, cepat dan gampang. Inilah "program baik budi" pemerintah sekarang. Benarkah?
Pada 2009, pemerintah meningkatkan dana PNPM Mandiri yang berasal dari pinjaman Bank Dunia itu hingga mencapai Rp3 miliar per kecamatan. Sebanyak 22 pemerintah kabupaten/kota, terutama di wilayah Jawa, menolak PNPM Mandiri dengan alasan pembagian bantuan itu merupakan bentuk kampanye terselubung dari partai politik yang saat ini memegang tampuk pemerintahan. http://www.antaranews.com/view/?i=1229859089&c=EKB&s=


Tidak ada komentar:
Posting Komentar